Realita

Semua yang ada di blog ini fiktif. Tenang dan sabar saja, zombie apokaliptik belum benar-benar menyerang. Saat waktunya tiba, mungkin saya akan ada di baris terdepan atau mungkin bersembunyi di baris terbelakang, saya tak tahu. Semoga saat apokaliptik itu tiba, kita bisa berjuang bersama dan tetap hidup. Amin.

Advertisements

15 Maret 2012

Maaf saya tidak mengupdate blog ini dua hari. Keadaan makin genting dan saya sekarang hanya punya sedikit waktu.

Yang terjadi dua hari ini : Saya dikejar zombie ketika mencari charger. Sebelumnya saya bilang, jangan bunuh mereka. Tapi pilihan saya hanya dua, dibunuh atau membunuh. Jadi saya pukul kepala zombie yang mengejar saya itu. Laki-laki, sepertinya anak kelas sepuluh atau sebelas, saya tidak kenal. Setelah itu saya bergegas ke atap, mencari Nanda. Tapi tak ada Nanda, jadi saya dengan panik mencari-cari tapi tidak menemukan Nanda. Tak pula Ayas, Meri, dan teman2 lainnya. Jadi saya putuskan, saya harus melanjutkan perjalanan sendiri ke rumah, tapi sambil berjalan saya sempatkan cari-cari mereka, agar tahu mereka selamat.

Sekarang saya sedang di minimarket di jalan. Masih tak ada orang. Tadi saya sempat bertemu dengan beberapa mobil yang lewat tapi saya tak digubris. Saya panggil-panggil tapi tak dijawab dan mobil tetap melesat. Jadi saya di sini, mengambil beberapa makanan dan minuman, lalu beristirahat sejenak. Setelah ini saya akan melanjutkan perjalanan kembali menuju rumah.

Salam untuk semua orang. Berhati-hatilah.

13 Maret 2012 – 08.00

Akhirnya saya berhasil menemukan charger di kelas sebelas. Di sini sudah nggak ada tanda-tanda kehidupan. Sebenarnya tadi ada satu anak yang sudah terbaring di lantai, sepertinya mati karena terinjak-injak. Tapi untuk amannya, tadi saya pukul berkali-kali dengan tongkat dan tubuhnya saya buang ke luar kelas. Pintu saya blokade dengan meja dan kursi. Untungnya banyak tas yang tertinggal, jadi saya bisa mencari dalam tas itu mungkin ada yang bisa saya gunakan sebagai senjata. Atau mungkin makanan. Atau mungkin beberapa handphone yg tertinggal sehingga bisa saya ambil kartu atau baterainya.

Itu bisa saya lakukan nanti. Sebenarnya tak ada hal penting yang terjadi, saya hanya menulis untuk menyampaikan pada dunia bahwa saya masih hidup saat ini. Oh ya, saya tadi mendengar ledakan dari arah Blok M dan masih tak tahu itu ledakan apa. Lalu saya tadi mencoba mencari ke kelas-kelas di lantai 7, tapi tak ada tanda-tanda manusia. Jadi saya masuk ke satu kelas dan mencharge HP dengan charger yang saya temukan di tas seseorang.

Kabar yang saya tahu lagi adalah, infeksi virus ini terjadi tidak hanya di jakarta, melainkan di seluruh kota besar di Indonesia: Medan, makassar, surabaya, dll, dan terus menyebar. Bukan hanya di Indonesia, namun juga di negara-negara lainnya. Tapi satu hal yang saya ingin tahu (namun saya masih belum membaca ada berita ini), saya mengharap bantuan dari pemerintah. Mungkin pemerintah mampu menyediakan tempat untuk berlindung bagi mereka yang buta dengan situasi ini. Saya berharap adanya kejelasan tentang apa yang sedang terjadi saat ini.

Sekian dulu tulisan saya, saya harus melanjutkan perjalanan mencari teman-teman. Eh tunggu, saya mendengar suara langkah di luar.  Doakan saya selamat.

13 Maret 2012

Barusan saya dapet kontak, cuma sms sih, dari ibu saya. Ibu saya ngirim pesan bahwa saya harus berhati-hati dan saya harus pergi ke rumah nenek saya di kawasan sukabumi selatan. Tapi saya balas lebih baik ketemu di rumah, lokasinya memang lebih jauh, tapi lebih aman. Hingga sekarang sms saya belum dibalas.

Yang gawat adalah, baterai handphone saya hampir habis. Padahal saya sangat butuh HP ini untuk komunikasi dengan keluarga atau survivor lainnya dan untuk terus mengupdate blog ini. Jadi sekarang saya akan mencoba turun ke bawah untuk mencari charger (kemarin teman2 berlarian banyak yang meninggalkan tas, semoga ada charger) dan mencoba mencari teman-teman (ayas, meri, dan segerombolan anak kelas sebelas yang saya tak tahu namanya). Karena jalan masuk saya ke sini telah terblokade, saya akan turun dengan cara melompat ke balkon lantai 8. Nanda bilang ia akan tetap di atap, ia berharap akan ada helikopter pemerintah yang lewat, dengan berat hati, saya iyakan. Saya berjanji pada Nanda bahwa saya akan kembali. Namun saya tak terlalu yakin.

Jika blog ini tidak diupdate dalam waktu 48 jam ke depan. Berarti ada masalah penting atau saya telah terinfeksi. Tetap semangat untuk berjuang, teman-teman di luar sana. Jangan menyerah dan ingat : jangan lepaskan kesempatan mendapatkan makanan, minuman, dan senjata. Jika bertemu dengan banyak pilihan makanan, pilih yang sekali makan bisa mengenyangkan, meski rasanya tak enak. Jika menemukan banyak senjata, ambil yang paling bisa kalian gunakan. Avoid zombies kalau kalian bisa, kalau nggak bisa, bunuh tanpa suara.

Tetap semangat, teman-teman seperjuangan!

Identifikasi

Selagi ada waktu, saya dan Nanda tadi ngomongin gimana karakteristik zombie2 ini. Ini penting bgt karena kita harus tahu supaya bisa menghindar.

1. Mereka menggigit dan menular : saya nggak tahu karena virus atau apa, tapi gigitan zombie ini menyebabkan org yang digigit juga jadi zombie. Tapi kita belum tahu berapa lama inkubasinya. Saya juga nggak tahu apakah virus ini menyebar lewat media lainnya, misalnya air atau udara.

2. Mereka lambat

3. Mereka bodoh : sejauh yang saya perhatikan, mereka nggak bisa buka pintu, lompat, naik pagar, dan tekan tombol.

Baru itu yang saya tahu. Saya belum tahu apa yang harus kita lakukan pada mereka. Ingat, ini bukan film. Jangan serta merta lakukan yang kalian lihat di film. Sebisa mungkin jangan bunuh mereka. Bisa jadi WHO atau organisasi kesehatan lain akan menemukan obat virus ini besok, jadi sebisa mungkin ya itu, jangan dibunuh. Jauhi aja, coba lari sejauh mungkin.

Untuk transportasi, yang gua sarankan adalah motor atau sepeda. Kalau kalian pakai mobil, ada kemungkinan terjebak dan nggak bisa kabur dari mobil. Kalau naik motor, dalam keadaan darurat, motor itu bisa dilepas. Sepeda lebih baik lagi karena tanpa suara, jadi lebih aman.

Baru itu yang kami tahu. Jika ada survivor lain di luar sana yg membaca blog ini, tolong komentari agar kita tahu di mana posisi masing-masing saat ini. Terima kasih. Semoga kita semua selamat.

Febi Rizki Ramadhan

13 Maret 2011

pukul 01.12

12 Maret 2011 – 11.32 WIB

Adaserangan malam ini. Tadi pas saya tidur tiba-tiba Nanda bangunin saya, saya langsung ambil tongkat dan siap-siap untuk segala kemungkinan. Nanda bilang dia dengar suara-suara, jadi dia buka pintu atap (Nanda bisa buka itu pintu karena masih ada pagar pembatas antara pintu dan tangga. Tapi,  Nanda tetap minta saya berjaga-jaga. Dan ternyata ada segrup Zombie yang lagi berusaha melewati pagar, untungnya nggak bisa. Tapi tetap saja, saya dan Nanda nggak bisa selamanya di sini. Atap jelas nggak aman lagi karena rombongan zombie itu tahu kami di sini.

Jadi, Siapapun yang membaca blog ini,  tolong komentari atau kontak saya. Terima kasih.

 

12 Maret 2012

Warning untuk semua orang. Saya nggak tahu gimana kabar orang-orang di daerah lain, tapi sekarang sedang terjadi chaos di daerahjakartaselatan yang saya masih bingung sebabnya.

Saya sendiri sedang berada di sekolah, tadi ketika pelajaran tiba-tiba diumumkan bahwa terjadi kekacauan di luar dan murid diminta untuk tetap tenang. Lalu dalam kepanikan,  seorang teman, namanya Dien, menerima telepon dari ayahnya bahwa ia harus keluar dari sekolah saat itu juga dan secepat mungkin menuju kantor ayahnya. Ayah Dien bilang orang-orang di jalanan menjadi gila dan saling menyerang satu sama lain. Dien dengan bingung lari keluar kelas dan sontak diikuti beberapa teman saya lainnya.

Yang terpikir oleh saya pertama adalah saat terjadi kerusuhan, sangat berbahaya jika kita terjebak di dalamnya, jadi saya tetap di tempat ketika teman-teman saya berlarian ke luar kelas dan guru saya tak bisa mengendalikan situasi. Hingga akhirnya saya tinggal dengan beberapa orang teman di kelas. Yang tadi tersisa adalah : Dini, Nanda, Nendra, Digda, Ayas, dan Meri. Meri lalu bergerak ke jendela dan melihat ke bawah (sekolah kami di lantai 6), lalu saya mengikuti meri dan terpana dengan apa yang saya lihat.

Orang-orang saling menyerang. Menggigit. Mencakar. Yang terpikir dalam benak saya adalah zombie apocalypse, tapi tak mungkin. Zombie apocalypse tak mungkin benar ada. Tapi untuk mengantisipasi hal tak terduga, saya berlari dari jendela, mengambil tas dan mengosongkannya, hingga yang tersisa di dalamnya hanya sebuah jaket, lalu saya mengambil tiang bendera dari kayu yang ada di sudut kelas dan melepaskan ikatan bendera. Setelah itu saya mengajak teman-teman yang tersisa untuk keluar dari kelas dan menuju tempat yang lebih aman. Saya mengajak mereka ke atap sekolah. Namun yang mau hanya Ayas, Meri ,dan Nanda, jadi kami terpaksa meninggalkan  Digda, Dini, dan Narendra karena mereka memilih untuk tetap tinggal.

Singkatnya (maaf saya tak bisa menulis terlalu panjang, hari sudah malam dan saya harus berjaga), kami berempat mengendap2 di sekolah dan melihat ke tiap kelas. Kadang ada beberapa orang yang kami temui dan Ayas mengajak mereka untuk bergabung.Adayang bergabung dan ada yang menolak.

Lalu saya mengatakan mereka agar pergi terlebih dahulu lewat tangga darurat. Untuk ke atap mereka harus memanjat pagar (karena tangga menuju atap dipagari). Sedangkan saya pergi ke kantin terlebih dahulu untuk mengambil makanan dan minuman untuk kami bertahan hidup beberapa lama. Saya meminta Nanda menemani saya karena saya tak bisa sendiri. Ayas dan beberapa anak lainnya saya percayakan ke Meri karena Meri ahli bela diri. Akhirnya saya ke kantin, tapi yang tersisa hanya beberapa snack ringan dan aqua sekardus, jadi kami membawa apa yg dapat kami temukan. Nanda membawa aqua sekardus dan saya memasukkan snack2 itu ke dalam tas saya. Kami beranjak ke atap.

Namun dalam perjalanan, kami bertemu dgn guru kami, pak U, yang berjalan tertatih dan mengeluarkan suara2 aneh. Nanda bilang kami harus lari sebelum ia sadar bahwa kami ada di sini. Tapi saya bingung apa yang harus dilakukan. Saya belum yakin bahwa yg terjadi adalah zombie apocalypse, jadi saya mendatangi pak U dan terkejut. Nanda benar. Pak U terlihat aneh. Sangat pucat dan bagian pipinya ada luka lebar yang menganga. Saya super terkejut ketika melihat ia sedang menggigiti sebuah tangan. Tak tahu milik siapa. Saya mundur, tapi pak U terlanjut melihat saya.

Pak U maju dan saya  kesulitan bergerak, ternyata tak segampang di film untuk menyerang. Pak U hampir menggigit tangan saya lalu Nanda melemparkan kardus aqua kepada Pak U sehingga ia terhuyung dan jatuh, saya mengambil kesempatan untuk berlari dan mengambil beberapa botol aqua yg bisa saya ambil. Lalu kami berlari ke atap dan terkesiap. Tak ada orang. Tak ada Ayas, Meri, dan kawan-kawan. Saya dan Nanda kaget tapi kami memutuskan untuk tetap di tempat karena hari sudah malam. Kami tidur bergantian karena satu orang harus berjaga. Kami hanya punya beberapa makanan ringan dan beberapa botol aqua. Senjata kami hanya satu tongkat kayu dan pipa besi yang Nanda temukan di atap. Kami butuh bantuan.

Jika ada yang membaca catatan ini, tolong kontak saya di 08777246xxxx, jika ada yang tahu informasi lebih lanjut, tolong beritahu saya sehingga saya dan teman saya dapat mengetahui apa yang terjadi dengan jelas. Jangan lupa berhati-hati terhadap orang-orang di sekitar kalian. Kumpulkan makanan dan minuman, gunakan seperlunya dan sehemat mungkin. Selalu pegang senjata. Jangan kemanapun sendirian.